Senin, 15 Februari 2010

Batik Lasem, Harga Terjangkau Hingga Mahal


Aprliani dan Wulansari menjelaskan, kain batik Lasem yang dipamerkan sengaja dipilih harga ekonomis agar terjangkau oleh calon pembeli. Harga termurah Rp 100 ribu, termahal Rp 400 ribu. Ada juga yang siap pakai. Setidaknya ada 25 desain baju wanita aneka warna dan motif. Harganya berkisar Rp 125 ribu dan bisa dinego.
Grand opening Griya Batik Lasem dilaksanakan Kamis (11/6) di Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) sekaligus meresmikan 2 bangunan ruang pamer lain yakni show room handycraft dan pusat oleh-oleh khas Rembang di lokasi TRPK dan show room bordir dan konveksi di kasawan Pandangan kecamatan Kragan.

Batik Lasem dan “Griya Batik Lasem”


BAGI penggemar kain batik tulis Lasem, kini tak perlu repot berkeliling mendatangi satu persatu pengrajin batik yang tersebar di kecamatan Lasem, Pancur dan Pamotan. Pasalnya sejak tanggal 21 April Pemkab Rembang melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Dinperindagkop & UMKM) telah melakukan soft opening ruang pamer dan pusat penjualan yang dinamakan Griya Batik Tulis Lasem.
Tempatnya strategis dan mudah dijangkau, berada di jalan raya Lasem (Jl Untung Suropati), menempati bangunan kuno bekas kantor PDAM Lasem yang dahulu pernah juga dijadikan sebagai kantor Wedono Lasem.
Saat berkunjung ke Griya Batik, Apriliani dan Wulansari dengan akrab akan menyapa dan dengan lancar menerangkan satu persatu motif kain batik yang dipamerkan. Sedikitnya terpampang 200-an kain batik Lasem, hasil karya 14 pengrajin yang sudah ternama, dintaranya Purnomo, Santoso, Widji dan Usman.

Batik Lasem dan Sanggar Batik Anak-Anak


UNTUK yang kedua kalinya saya mengunjungi Jeruk Pancur karena ingin melihat langsung cara ngloroti (mewarnai dan mencuci malam). Tapi ternyata proses tersebut sudah berakhir beberapa hari yang lalu.
Namun kekecewaan gagal melihat proses akhir yang dilakukan pembatik Srikandi terobati dengan ramainya ruang batik dengan anak-anak yang membatik. Rupanya Srikandi Jeruk tengah menggerakkan anak-anak perempuan usia SD dan SMP untuk belajar membatik. Akhirnya terbentuklah sanggar batik yang belum diberi nama.
Maklum saja, sanggar batik anak-anak ini baru berdiri sekitar sebulan. Praktis baru beberapa kali saja mereka belajar membatik pada ibu-ibu Srikandi.
Anak yang paling besar, Kartika, siswi SMP 1 Lasem, mengaku senang belajar batik.
“Kenapa belajar batik?”
“Ingin melestarikan batik,” katanya polos sambil menutul-nutul kain selebar sapu tangan dengan canting.
Wartini, Ketua Srikandi membenarkan. Jika tidak segera dimulai dari sekarang mengajari mereka membatik, kapan lagi? Batik mesti dipelihara agar tidak hilang ditelan zaman dan akhirnya hanya tinggal cerita.
Kesediaan anak-anak belajar di sanggar, juga menunjang sekolah mereka yang kini tengah digalakkan kegiatan ekstrakurikuler membatik.
Kartika tidak sendirian. Ada beberapa temannya yang turut serta belajar batik. Mereka adalah Mining, Nita, Novi, Ela, Tia dan Pereng, yang kesemuanya siswa SD Jeruk. Mungkin setelah ini akan ada nama-nama lain yang turut serta belajar batik, sehingga suasana sanggar batik Jeruk makin ramai. Makin banyak yang belajar, makin bisa diharapkan akan kelestarian batik ke depannya. (*)